Selasa, 22 Maret 2011

Cerpen - Misteri Hantu Aneh

Sudah menjadi rahasia umum, kalau jalan di ujung kampungku itu angker.
Maka setiap melewati jalan itu, aku selalu menyanyi keras-keras, meskipun suaraku jelek.
Jika malam jumat kliwon, siapa yang lewat akan mencium bau aneh, yang tidak bisa dijelaskan. seolah berasal dari dunia lain.

Malam itu aku harus mengantar hantaran ke rumah Bibi Atun yang di dekat jalan itu.
Padahal malam itu adalah malam jumat kliwon.
Dengan nafas memburu dan jantung deg-degan, kuberanikan langkah kakiku menyusuri jalan itu.
Kujejakkan kakiku di lorong gelap yang hanya bermandikan sebersit sinar rembulan.
Selain aku, cuma suara jangkrik dan lolongan anjing di kejauhan yang menemani.
Supaya tidak takut, aku menyanyikan lagu 'Tul Jaenak' keras-keras.
Sebotol aqua di tangan kiri dan sepotong kerupuk di tangan kanan kuremas-remas agar menghasilkan bunyi "kriuk".

Jantungku seperti mau copot ketika melihat sesuatu berwarna putih bergerak di sudut jalan.
Warna putih yang berkibar-kibar dengan hikmat.
Oh, ternyata cuma bendera lelayu warna putih yang lupa dicabut.

Lalu tiba-tiba aku menyadari sesuatu, "berarti, baru ada orang meninggal siang tadi?". Angin malam bisu tidak menjawab.
Dan siulan angin yang lembut seperti meniup telinga kiriku. Aku menoleh.
Menoleh perlahan, dengan bola mata berputar ke arah tersebut.
Aku menoleh dengan penuh rasa takut.

Sejurus kemudian mataku terbelalak melihat sesosok asing di balik rerimbunan pohon toge.
Seperti manusia, tapi bukan.
Sorot matanya tajam, tidak bersahabat, penuh sinar kebencian dan dendam.
Wajahnya tertutupi oleh rambutnya yang panjang dan tidak disisir.
Kupingnya seperti kelelawar tapi bukan.
Hidungnya seperti babi, tapi bukan.
Gelapnya malam membuatku tak bisa memastikan apakah kakinya menginjak bumi atau melayang-layang.


Bau aneh yang legendaris itu tercium samar-samar.
Aku siap-siap dalam posisi kuda-kuda, siap berlari kapanpun terjadi hal-hal yang berbahaya.
Sosok tersebut semakin mendekatiku.
Aku secara refleks mengambil langkah seribu, pergi menjauh dari tempat itu.
Tetapi ada sesuatu yang memegang kakiku sehingga aku tidak bisa bergerak.
Bulu kudukku langsung kompak berdiri, seiring dengan semakin kuatnya cengkeraman di kakiku.
Tangan itu menarikku! aku terjatuh!
Kuberanikan diri untuk melihat apa yang memegang kakiku.
Sesosok tangan kekar. Berwarna hitam dan diselimuti bulu-bulu hitam gondrong. Kuku-kukunya panjang mengerikan!

Kutarik-tarik kaki kiriku. Tapi cengkeraman itu menjadi semakin kuat.
Aku menarik paksa lagi kakiku. Aduh, kakiku berdarah terkena cakarnya. Untunglah kakiku bisa terlepas.

Keringat dingin sebesar biji bola bekel masih deras mengucur di dahiku.
Dan kuputuskan untuk menginjak tangan jelek itu.
Kuku-kukunya yang panjang aku patahkan.
Bulu-bulunya yang lebat aku cabut.
tangan tersebut kuinjak keras-keras.

Namun, tiba-tiba suara jeritan terdengar dari dalam tanah. Bumi pun tiba-tiba bergetar hebat.
Tangan tersebut menghilang ke dalam lapisan-lapisan tanah.

Dan sebuah gerakan lembut mencakar kabut tipis malam hari.
Dari kabut yang terkoyak itu, muncullah sosok wanita cantik dan harum mewangi.
Rambutnya panjang, pakaian panjang melambai ke tanah. Warnanya putih bersih.
"Namaku... Celia," suara indah itu keluar seperti mengecup berahi.

"Aku punya joke untukmu," sosok bernama Celia, yang aku belum tahu makhluk apakah dia, melanjutkan bicara.

Aku tidak sempat untuk mendengarkan joke itu, karena aku langsung lari tunggang langgang.

0 komentar:

Posting Komentar